Selasa, 26 Juli 2011

DAPUR KERIS MENURUT PAKEM JAWA


     Berikut adalah macam - macam Dapur Keris menurut pakem Jawa yang telah ada.Dapat digolongkan menjadi beberapa bagian ;

Keris Lurus :
  1. Betok
  2. Brojol
  3. Tilam Upih
  4. Jalak
  5. Panji Anom
  6. Jaka Supa
  7. Semar Betak
  8. Regol
  9. Karna Tinanding
  10. Kebo Teki
  11. Kebo Lajer atau Mahesa Lajer
  12. Jalak Ruwuh
  13. Sempane Bener
  14. Jamang Murub
  15. Tumenggung
  16. Pantrem
  17. Sinom Worawari
  18. Condong Campur
  19. Kalamisani
  20. Pasopati
  21. Jalak Dinding
  22. Jalak Sumelang Gandring
  23. Jalak Ngucup Madu
  24. Jalak Sangu Tumpeng
  25. Jalak Ngore
  26. Mundarang
  27. Yuyu Rumpung
  28. Mesem
  29. Semar Tinandu
  30. Ron Teki
  31. Dungkul
  32. Kelap Lintah
  33. Sujen Ampel
  34. Lar Ngatap
  35. Mayat Miring
  36. Kanda Basuki
  37. Putut Kembar
  38. Mangkurat
  39. Sinom
  40. Kala Munyeng
  41. Pinarak
  42. Tilam Sari
  43. Jalak Tilam Sari
  44. Wora Wari
  45. Marak
  46. Damar Murub
  47. Jaka Lola
  48. Sepang
  49. Cundrik
  50. Cengkrong
  51. Naga Tapa
  52. Jalak Ngoceh
  53. Kala Nadah
  54. Balebang
  55. Pundhak Sategal
  56. Kala Dite
  57. Pandan Sarawa
  58. Jalak Barong atau Jalak Makara
  59. Bango Dolok Leres
  60. Singa Barong Leres
  61. Kikik
  62. Mahesa Kantong
  63. Maraseba
Dapur Keris Luk 3 :
  1. Jangkung Pacar
  2. Jangkung Mangkurat
  3. Mahesa Nempuh
  4. Mahesa Soka
  5. Jangkung Segara Winotan (Mangku Negoro)
  6. Jangkung
  7. Campur Bawur
  8. Tebu Sauyun
  9. Bango Dolok
  10. Lar Monga
  11. Pudhak Sategal Luk 3
  12. Singa Barong Luk 3
  13. Kikik Luk 3
  14. Mayat
  15. Wuwung
  16. Mahesa Nabrang
  17. Anggrek Sumelang Gandring
Dapur Keris Luk 5 :
  1. Pandawa
  2. Pandawa Cinarita
  3. Pulang Geni
  4. Anoman
  5. Kebo Dengen
  6. Pandawa Lare
  7. Pudhak Sategal Luk 5
  8. Urap – Urap
  9. Naga Salira
  10. Naga Siluman
  11. Bakung
  12. Rara Siduwa
  13. Kikik Luk 5
  14. Kebo Dengen
  15. Kala Nadah Luk 5
  16. Singa Barong Luk 5
  17. Pandawa Ulap
  18. Sinarasah
  19. Pandawa Pudak Sategal
Dapur Keris Luk 7 :
  1. Carubuk
  2. Sempana Bungkem
  3. Balebang Luk 7
  4. Murna Malela
  5. Naga Keras
  6. Sempana Panjul
  7. Jaran Guyang
  8. Singa Barong Luk 7
  9. Megantara
  10. Carita Kasapta
  11. Naga Kikik Luk 7
Dapur Keris Luk 9 :
  1. Sempana
  2. Kidang Soka
  3. Carang Soka
  4. Kidang Mas
  5. Panji Sekar
  6. Jurudeh
  7. Paniwen
  8. Panimbal
  9. Sempana Kalentang
  10. Jaruman
  11. Sabuk Tampar
  12. Singa Barong Luk 9
  13. Buto Ijo
  14. Carita Kanawa Luk 9
  15. Kidang Milar
  16. Klika Benda
Dapur Keris Luk 11 :
  1. Carita
  2. Carita Daleman
  3. Carita Keprabon
  4. Carita Bungkem
  5. Carita Gandu
  6. Carita Prasaja
  7. Carita Genengan
  8. Sabuk Tali
  9. Jaka Wuru
  10. Balebang Luk 11
  11. Sempana Luk 11
  12. Santan
  13. Singa Barong Luk 11
  14. Naga Siluman Luk 11
  15. Sabuk Inten
  16. Jaka Rumeksa
Dapur Keris Luk 13 :
  1. Sengkelat
  2. Parung Sari
  3. Caluring
  4. Johan Mangan Kala
  5. Kantar
  6. Sepokal
  7. Lo Gandu
  8. Nagasasra
  9. Singa Barong Luk 13
  10. Carita Luk 13
  11. Naga Siluman Luk 13
  12. Mangkunegoro
  13. Bima Kurdo Luk 13
  14. Kalawelang Luk 13
Dapur Keris Luk 15 :
  1. Carang Buntala
  2. Sedet
  3. Raga Wilah
  4. Raga Pasung
  5. Mahesa Nabrang
  6. Carita Buntala Luk 15
Dapur Keris Luk 17 :
  1. Carita Kalentang
  2. Sepokal Luk 17
  3. Kancingan
  4. Ngamper Buta
Dapur Keris Luk 19 :
  1. Trimurda
  2. Karacan
  3. Bima Kurda Luk 19
Dapur Keris Luk 21 :
  1. Kala Tinanding
  2. Trisirah
  3. Drajid
Dapur Keris Luk 25
  1. Bima Kurda Luk 25
Dapur Keris Luk 27
  1. Taga Wirun
Dapur Keris Luk 29
  1. Kala Wendu Luk 29
Penamaan Dapur Keris Di Bali :
Dapur Keris Lurus :
  1. Ranggasemi
  2. Jaka Wijaya
  3. Rangga Perwangsa
  4. Demang Drawalika
  5. Parung Carita
  6. Parung Sari
Dapur Keris Luk 3 : Jangkung Maelo
Dapur Keris Luk 5    : Tangan
Dapur Keris Luk 7    : Palang Soka
Dapur Keris Luk 9    : Rang Suting
Dapur Keris Luk 11   : Lawat Nyuk
Dapur Keris Luk 13 : Lawat Buah
Dapur Keris Luk 15 : Jeruji
Macam – Macam Dapur Tombak Menurut Pakem Jawa :
Dapur Tombak Lurus :
  1. Baru
  2. Baru Teropong
  3. Baru Kuping atau Sipat Kelor
  4. Buta Meler
  5. Pandu
  6. Panggang Lele
Dapur Tombak Luk 5 :
  1. Daradasih
  2. Rangga
  3. Panggang Welut
  4. Dora Manggala
  5. Seladang Hasta
  6. Daradasih Menggah
Dapur Tombak Luk 7 :
  1. Karacan
  2. Megantara
  3. Lung Gandu
Dapur Tombak Luk 9 :
  1. Bandotan
Dapur Tombak Luk 11 :
  1. Carita Anoman
  2. Carita Blandongan
Dapur Tombak Luk Khusus :
  1. Cacing Kanil (Luk 3, 5, 7)
  2. Banyak Angkrem
  3. Kuntul Ngantuk
Dapur Tombak Kalawaijan :
  1. Tunjung Astra
  2. Nagendra
  3. Wulan Tumanggal
  4. Dwisula
  5. Trisula
  6. Catursula
  7. Pancasula
  8. Rosan Dita
Dapur Pedang Menurut Pakem Jawa :
  1. Lameng
  2. Bandol
  3. Luwuk
  4. Lar Bango
  5. Sada
  6. Tebalung
  7. Suduk Maru
  8. Sokayana
  9. Sabet
     Semoga bermanfaat.***


DAFTAR NAMA - NAMA RICIKAN KERIS


     Berikut adalah daftar nama - nama Ricikan Keris yang digunakan di seluruh Nusantara.Hanya saja sering dalam penyebutannya ada perbedaan, yang mungkin dipengaruhi oleh bahasa lokal. Misalnya di Sulawesi menyebut Keris itu Sele atau Tappi, Gonjo adalah Kancing, Pesi disebut Oting. Demikian pula di Madura Pesi disebut Pakseh, Gonjo disebut Ghencah, bilah keris disebut Ghember sementara di Bali ada beberapa perbedaan pula menyebut Keris dengan Kadutan, Pesi disebut Panggeh, Gonjo disebut Ganje, Hulu keris disebut Danganan dslb.


     Untuk pengetahuan perkerisan, baik sebagai kolektor atau pemerhati, ricikan keris walaupun merupakan pengetahuan dasar menjadi sangat penting karena setidaknya dapat untuk membedakan jenis-jenis Dhapur. Seseorang tidak akan mungkin mengetahui nama dapur bilamana ia tidak hafal terhadap ricikan keris ini.

Nama - nama Ricikan Keris :
  1. Pesi
  2. Metuk
  3. Gonjo
  4. Greneng
  5. Rondo Nunut
  6. Buntut Cecak
  7. Punukan
  8. Dho
  9. Ri Pandan (8+9 = Ron Dho)
  10. Tingil
  11. Sraweyan
  12. Bungkul
  13. Janur
  14. Sogokan (ada yang rangkap ada yang depan saja)
  15. Poyuhan
  16. Pejetan/Blumbangan
  17. Gandik
  18. Tikel Alis
  19. Jenggot
  20. Sekar Kacang atau Kembang Kacang
  21. Jalen
  22. Lambe Gajah
  23. Pundak atau Sumping
  24. Pudak Sa’tegal Depan
  25. Pudak Sa’tegal Belakang
  26. Adha-adha atau Geger Sapi
  27. Lis-lisan
  28. Gusen
  29. Kruwingan atau Gulo Milir
  30. Kruwingan Cucuk Manuk
  31. Pucukan Mbuntut Tumo
  32. Pucukan Anggabah Kopong
  33. Sogokan Sampir atau Sinebo
  34. Bawang Sebungkul
  35. Sekar Kacang Pogok
  36. Lambe Gajah Rangkep
  37. Gonjo Wuwung
  38. Gonjo Kelap Lintah
  39. Gonjo Wilut
  40. Kanyut
  41. Wetengan Gonjo
  42. Sirah Cecak
  43. Buntut Cecak Sebit Lontar
  44. Sirak Cecak Melinjo atau Nyangkem Kodok
  45. Buntut Cecak Nguceng Mati
  46. Gandik Pethuk atau Laler Mengeng
  47. Mendak
  48. Ukir atau Deder
  49. Kinatah emas

SEJARAH ASAL MULA KERIS



     Banyaknya ragam keris - keris  yang sudah kita kenal sampai saat ini, asal mulanya masih belum terjelaskan betul secara detail. Relief candi - candi di Jawa pun hanya lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur India-nya, daripada penjelasan mengenai sala mulanya..

Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok


     Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.

     Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342 Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya.

     Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.

Keris "Modern"

     Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).

     Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai "keris kuno" dan "keris baru" yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah "keris kuno" yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya.

     Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah "keris kuno" , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium, stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel.

     Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya. Beberapa Keris Pusaka terkenal :
* Keris Mpu Gandring
* Keris Pusaka Setan Kober
* Keris Kyai Sengkelat
* Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten
* Keris Kyai Carubuk
* Keris Kyai Condong Campur
 

     Semoga bermanfaat.***


MENGENAL BAGIAN KERIS DENGAN GAMBAR


    Perincian dari bagian-bagian sebilah keris dengan istilah-istilah yang telah ada turun-temurun disebut dengan Rincikan Keris.Untuk lebih mudahnya, seumpama dianalogikan dengan suku cadang atau komponen mobil. Di antara komponen mobil ada yang namanya piston, gardan, bumper, pelek, dashboard, altenator, dlsb. Demikian pula, tiap bagian keris yang berlainan bentuknya berlainan pula namanya.

     Rincikan keris juga merupakan variasi dari sebilah keris untuk dapat disebut dhapurnya. Misalnya pada keris sederhana dhapur Brojol hanya memiliki rincikan Blumbangan atau pejetan saja. Sedangkan Dhapur Sepaner adalah memiliki rincikan sekar kacang, tikel alis, sraweyan, sogokan dan greneng. Setiap nama dhapur keris ditentukan oleh adanya Rincikan keris dan bilah lurus atau bentuk luknya.

     Secara garis besar, sebilah keris dapat dibagi atas tiga bagian yakni bagian bilah atau wilahan, bagian ganja dan bagian pesi. Bagian wilahan juga dapat dibagi tiga, yakni bagian pucukan yang paling atas, awak-awak atau tengah dan sor-soran atau bidang bawah. Pada bagian sor-soran inilah ricikan keris paling banyak ditempatkan.



     Semoga bermanfaat.***

BAGIAN - BAGIAN DARI KERIS SECARA UMUM


     Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

* Pegangan keris

Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .
Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.
Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

* Wrangka atau Rangka

Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .

Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

* Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .

MENGENAL KERIS




    Siapa yang tidak akan mengenal Keris.Merupakan salah satu benda yang identik dan erat khususnya dengan kultur kebudayaan jawa adalah keris.Dalam “Legenda Jawa” disebutkan , bahwa untuk menjadi seorang pria yang sejati, maka seseorang harus memiliki lima hal, yakni: sebuah keris pusaka; seekor kuda; burung peliharaan; seorang wanita dan sebuah rumah.

     Dalam kultur kebudayaan Jawa keris dipandang dan diperlakukan sebagai suatu “simbol” dan juga “status” bagi sang pemiliknya, bukannya sebagai suatu “alat pembunuh” (Martial Weapon). Hampir disetiap keluarga aristokrat jawa, dapat dipastikan mereka memiliki sebuah Keris Pusaka Keluarga, yang memiliki keampuhan-keampuhan yang khas. Memiliki sebuah Keris Pusaka, mengharuskan seseorang untuk memenuhi berbagai ritual, salah satu diantaranya adalah upacara pemandian keris, yang umumnya dilakukan setiap tahunnya dan hal itu tergantung sekali kepada para pemiliknya masing-masing, bagaimana mereka dalam melakukannya.

      Rumitnya masalah keris ini juga berakibat tidak mudahnya masalah kepemilikan keris bagi seseorang, yang ternyata tidak semudah memiliki barang-barang pribadi lainnya. Untuk memiliki sebuah keris yang mengandung makna kultural, mengharuskan seseorang melakukan beberapa ritual, untuk memastikan apakah keris tersebut “berjodoh” dengan sipemilik dan bagaimana selanjutnya pemeliharaan yang diharapkan oleh si-Keris tersebut.

     Berpindah tangannya sebuah keris tidak ditandai dengan perpindah tangannya segenggam uang. Sebagaimana layaknya orang yang akan melakukan pernikahan, maka persatuan antara sebuah keris dengan pemiliknya yang baru, ditandai oleh “mahar” atau “Mas Kawin” yang disetujui oleh kedua belah pihak, termasuk si-Keris tersebut, melalui seorang “medium”. Masalah bisa berakibat sangat serious, karena kalau si-Keris tidak bisa menerima pemiliknya yang baru, maka hal tersebut bisa fatal bagi sipemilik baru tersebut.

     Tingkat kerumitan masalah keris ini termasuk bagaimana cara menyandang si-Keris tersebut. Hal itu tergantung penyandangnya untuk kepentingan apa ? Kalau semua masalah ritual tersebut diabaikan, hal itu hanya akan menyebabkan si-Keris tersebut gusar dan kalau sudah demikian keadaannya, maka suasana harmonis antara si-Keris dan pemiliknya menjadi terganggu dan bencanapun bisa saja terjadi.!

     Masalah rumitnya dunia Keris ini nampaknya juga menimbulkan perbedaan pendapat tentang dari mana asal-usul kata “Keris” tersebut berasal? Dalam buku “Ensiklopedia Keris” yang dijual dimuseum Keris, diterangkan bahwa kata Keris pertama ditemukan pada sebuah lempeng perunggu dengan tulisan “KRES” yang ditemukan sekitar tahun 825, didesa Karangtengah. Konon, selanjutnya kata “KRES” inilah yang merupakan cikal-bakal kata “KERIS” yang kita kenal sekarang, dengan segala macam misterinya.

     Artikel Lain yang berhubungan dengan keris :

@ Bagian - Bagian Keris
@ Daftar Ricikan Keris
@ Dapur Keris  
@ Gambar Bagian Keris
@ Sejarah Keris





Belajar Mengenal Huruf Atau Aksara Jawa


     Sebagai orang Jawa, sudah sepatutnya kita bisa berbahasa jawa dan menulis dengan tulisan aksara jawa.Aksara jawa sendiri berbeda dengan huruf Latin yang kita gunakan sekarang ini untuk menulis. Aksara jawa terdiri dari :

1. Aksara Carakan
Aksara inti yang terdiri dari 20 suku kata ato biasa disebut Dentawiyanjana, yaitu :
ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga ;



2. Aksara Pasangan
Bentuk mati (huruf) dari aksara inti, yaitu :
h, n, c, r, k, d, t, s, w, l,
p, dh, j, y, ny, m, g, b, th, ng
;

pasangan

3. Aksara Swara
Biasanya untuk huruf awal penulisan nama kota ato nama
orang yang dihormati yang diawali dengan huruf hidup,
yaitu : A, I, U, E, O

4. Aksara Rekan
Untuk penulisan huruf-huruf yang berasal dari serapan bahasa
asing, yaitu : kh, f, dz, gh, z



5. Aksara Murda
Biasanya untuk huruf awal penulisan nama kota ato nama
orang yang dihormati, yaitu : Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Nya, Ga, Ba

6. Aksara Wilangan
Untuk penulisan bilangan dalam bahasa Jawa,
yaitu angka 1 s/d 10 dalam aksara Jawa.

7. Tanda Baca (Sandangan)
Merupakan tanda baca yang biasa digunakan, huruf hidup
serta huruf mati yang biasa dipakai dalam bahasa sehari-hari,
yaitu tanda : koma, titik, awal kamimat, dll
huruf : i, o, u, e.
huruf mati : _r, _ng, _ra, _re, dll



     Setelah menguasai aksara-aksara di atas, kita tidak bisa langsung menggunakannya untuk menulis sebagai mana ejaan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab ada beberapa hal yang menjadi perkecualian dan menjadi aturan tambahan.

     Semoga bermanfaat.